Senin, 27 Mei 2013

Punya Mimpi? Emang Udah Siap?

Assalamu'alaikum....sobat,
Alhamdulillah bisa nulis postingan lagi nih, hehe

Sekedar berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman, kemarin habis ikutan acara tablig akbar di AMG (Akedemi Meteorologi dan Geofisika) pengisinya artis muslimah, Mba Oky S.D

Sobat, semua manusia punya keinginan, cita-cita, atau harapan. ingin menjadi ini dan itu. waktu kecil sering kali kita ditanya, "kalau udah besar mau jadi apa?" dan kita yang dulu masih kecil dengan semangatnya menjawab, "Dokter", "polisi", "tentara", "pilot", dan lain sebagainya. seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan serangkaian kenyataan hidup yang kita temui, cara menjawab kita semakin ralistis. tidak serta merta menjawab begitu saja, tapi kita akan terlebih dahulu berpikir dan menyesuaikan dengan kondisi, kepribadian, dan karakter kita.

Sobat, terkadang apa yang kita ingin-inginkan tak kunjung terwujud. padahal kita sudah berdoa, berusaha semaksimal mungkin, mengorbankan apa yang bisa korbankan, dan melakukan apa yang mampu kita lakukan. tapi, keinginan itu tak kunjung terwujud.

Sobat, bukan salah tuhan kalau doa-doa kita belum dikabulkan. bukan salah teman, orang tua, atau siapapun di luar diri kita jika sesuatu yang kita mimpi-mimpikan belum juga menjadi kenyataan. lalu apa sebabnya? banyak, banyak sekali alasannya. kalau dijabarkan satu persatu, postingan ini tidak akan selesai. tapi, ada satu sebab yang langsung bersentuhan dengan diri kita, si pemimpi. apakah itu? "kesiapan diri"

Yup, sudah siapkah kita menerima apa yang kita inginkan? sobat, Allah SWT maha tahu akan segala-galanya, termasuk manusia. Allah tahu seberapa baik kulitas diri kita, seberapa kokoh tingkat keimanan kita sebagai hambanya. Allah SWT sangat tahu akan hal itu. Mba Oky, sejak kecil punya cita-cita ingin menjadi artis, beliau mengikuti banyak casting. tapi, belum juga berhasil. tapi setelah hidayah Allah datang, dan beliau menerima, menghayati serta melaksanakan hidayah dengan baik barulah Allah SWT memberikan mimpi itu. maka, jadilah beliau artis muslimah yang menjadi contoh untuk kaum perempuan.

Sobat, banyak orang yang menginginkan kekayaan, tapi kekayaan itu tak kunjung datang. bisa jadi Allah tahu, si orang ini belum bisa mengemban amanah harta yang banyak itu seandainya Allah mengabulkan keinginannya. kalau kasusnya seperti itu, maka bersyukurlah karena Allah sudah menghindarkan kita dari godaan berupa harta berlimpah. tapi ada juga yang sengaja diuji oleh Allah SWT, Allah mengabulkan doanya memiliki banyak uang. Allah ingin lihat apakah hambanya itu bisa mengolah amanah itu dengan baik. apakah si hamba bisa tetap beribadah, bersedekah, dan berbagi kepada sesama dengan hartanya itu. faktanya, kebanyakan dari yang seperti itu tidak lulus ujian. kebanyakan dari mereka terlena, tertipu, lalai, dan terjebak dalam kenikmatan dunia, alhasil semakin jauh dari Allah SWT.

Sobat, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi lima menit dari waktu saat ini. jadi, mari berkaca diri, sudah sesuaikah antara keadaan kita dengan segala hal yang kita inginkan. mampukah kita berjalan sebagaimana mestinya ketika semua keinginan kita dipenuhi oleh Allah SWT. masihkah kita tetap istiqomah, berdoa, mengiba, menangis, kepada Allah SWT, andai Allah mewujudkan apa yang kita inginkan? sanggupkah kita menerimanya dengan sebenar-benarnya tanggung jawab?

Sobat, tetaplah bersabar. kejar mimpi-mimpi kita, dan seiring dengan itu mari siapkan pula diri kita untuk menerimanya. apapun wujud dan jenis keinginan itu, ingin segera menikah, ingin berpretasi, ingin menjadi terkenal, jadi penyanyi, dll. silahkan ukur diri kita, sudah sampai tahap mana persiapan kita andai Allah SWT mewujudkan harapan kita itu.

wallahu'alam, semoga bermanfaat, wassalam...

Kamis, 23 Mei 2013

Mantra Anti GALAU : "Laa Ilaaha Illallah"

Apa sih makna kalimat "la ilaaha illallah"?
jawab: "tidak ada tuhan kecuali Allah"

Betul memang, tapi apakah cukup sampai disitu? sama sekali tidak. itu pemahaman saya sewaktu belajar di taman kanak-kanak Al-Qur'an. kalimat "la ilaaha illallah" adalah pangkal akidah keimanan seorang muslim. yuk, kita tela'ah sedikit aja, sesuai kapasitas saya. hehe...

Kata "la" dalam bahasa arab artinya tidak. biasanya, kata itu digunakan untuk menyangkal atau melakukan penolakan. nah dalam konteks kalimat ini, kata "la" memiliki makna "meniadakan segalanya", yaitu tuhan. kalo kita potong kalimatnya menjadi "la ilaaha" artinya "tidak ada sama sekali tuhan" untungnya kalimat ini disambung dengan "illallah". ada kata "illa" di sana, kata "illa" berarti pengecualian. disambung dengan potongan kalimat sebelumnya berarti tidak ada satupun tuhan kecuali Allah.

Lalu apa hubungannya dengan GALAU? ya jelas ada hubungannya, inget postingan saya sebelumnya? GALAU muncul karena ada keinginan hati yang tidak terpenuhi. GALAU muncul karena rindu tak kunjung bertemu, GALAU muncul karena cinta tak kunjung terbalas, GALAU muncul karena serba ketidakpastian perasaan di hati. bener gak?

Sayangnya, kita tidak bisa mengendalikan itu. satu-satunya yang bisa mengendalikan GALAU itu cuma rahmat Allah SWT. pertanyaannya adalah, darimana kita dapet rahmat Allah kalau lebih banyak inget sama si dia bukan inget sama Allah? kalau lebih sering kangen sama si dia bukan kangen sama Allah? kalo pengennya cuma ketemu sama dia bukan ketemu sama Allah?

Kenapa semua itu bisa terjadi? jawabnya gampang, karena di hati kita yang ada cuma si dia, bukan Allah. Nah kalau kita memaknai dengan benar arti kalimat "la ilaaha illallah" maka kita bisa menemukan kenapa GALAU itu muncul. coba pikir, yup betul...karena meskipun mulut berucap la ilaaha illallah, tapi hati tidak berkata demikian. hati kita lebih banyak diisi oleh wajahnya, senyumnya, tertawanya, dan segala tentang dirinya. sedangkan Allah, dimana dia? ke laut aja. kalau sudah begitu terbitlah GALAU.

Karena itu, kita butuh penawarnya. berarti, kita harus menyingkirkan si dia dari pikiran kita dan mengisinya dengan asma Allah. "la ilaaha illallah" artinya kita meniadakan apapun di hati kita kecuali Allah. dengan mengucapkan kalimat "laa ilaaha illallah" berulang kali, hati kita akan mendapatkan makanannya, yaitu rahmat Allah SWT. maka hati akan tenang, tentreram, dan damai. kalo gak percaya, coba aja sendiri!! hehe...so mulailah dipraktekkan. gak usah banyak-banyak, 100x aja setiap habis sholat fardhu, insyaAllah hati kita tenang dan terang.

Semoga bermanfaat, wallahu'alam, wassalam...

Selasa, 21 Mei 2013

Cinta karena Allah, munafik loh???

Assalamu'alaikum warahmatullah wa barakatuh,,,

Alhamdulillah bisa mosting lagi,
saya ingin melanjutkan postingan sebelumnya,

Sobat, berbicara hubungan antar lawan jenis memang tidak ada habisnya. tapi, sadarkah kita bahwa semua konflik, masalah, duka dan nelangsa adalah sebagai akibat lantaran kita sulit bahkan tidak bisa menerima apa yang ditakdirkan oleh Allah SWT untuk kita, betul gak?

Sobat, kita memang tidak pernah tau apa hati itu sebenarnya, letaknya dimana, dan seperti apa ia bekerja. tapi yang jelas, ketika kita menerima hal yang menyenangkan maka hati akan bahagia. tapi apa bila sebaliknya, maka hati akan nelangsa.

Sobat, sebaik-baik cinta adalah cinta yang dilandasi oleh Allah SWT. pertanyaannya adalah seperti apa cinta karena Allah itu? cinta karena Allah bukanlah yang digadang-gadang dimulai dengan basmalah dan diakhiri dengan alhamdulillah, itu namanya musibah.

Sobat, "cinta karena Allah" tidak sedikit yang tergelincir karena kalimat itu. kelihatannya, case-nya, ngomongnya, cinta karena Allah, tapi nyatanya Allah di nomor dua-kan posisinya. cinta karena Allah tidak diwujudkan lewat menjalani pacaran, lalu saling mengingatkan untuk ibadah, untuk sholat, untuk belajar, untuk puasa, dan lain sebagainya. memang ada baiknya, tapi sobat sadarlah bahwa sedikit demi sedikit niat kita bisa melenceng lantaran hal itu. ibadah kita bukan karena Allah, tapi karena si dia. tapi, apa salah kalau dijadikan motivasi? ya jelas salah. satu-satunya yang bisa dijadikan motivasi hanya Allah SWT. kenapa? bagaimana kalau si dia nyakitin kita? lantas ibadahnya juga selesai, gitu? hati manusia siapa yang tahu? sekarang saling sayang, bisa jadi besok saling tendang. Ingat, Allah maha membulak-balikkan hati.

Tapi kalau Allah yang dijadikan motivasi, maka tidaklah sekali-kali Allah mengecewakan kita. yang ada adalah semakin nikmat dan mendamaikan. maka kita akan candu untuk beribadah kepada Allah SWT. jadi, cinta karena Allah itu seperti apa si? apa ada, cinta kepada lawan jenis karena Allah?

Sobat, cinta karena Allah adalah cinta yang mengedepankan hak-hak Allah, segalanya dipertimbangkan menurut Allah, apakah Allah senang jika saya melakukan ini dan itu? itulah cinta karena Allah. kalau sudah begitu, jelas bahwa cinta karena Allah adalah cinta yang sesuai dengan syariat islam. lalu adakah cinta kepada lawan jenis karena Allah? tentu saja ada, yaitu cinta yang muncul setelah pernikahan. itulah cinta yang suci dan bersih. menikahnya saja sudah ibadah, apalagi menjalani cinta setelah pernikahan, masyaAllah... pahalanya luar biasa.

Jadi, cinta karena Allah adalah cinta yang sesuai dengan syariat islam. kalau tidak sesuai dengan syariat islam, maka cinta itu palsu alias karena nafsu.

Jangan takut dengan istilah, "beli kucing dalam karung". rasanya kalau dua-duanya (laki dan wanita) sama-sama memiliki cinta karena Allah, hubungan yang terjalinpun akan dibina diatas syariat Allah. kalau sudah begitu, apa mungkin ada penyesalan setelah pernikahan.

So, apa yang harus kita lakukan sekarang? padahal kondisi belum mengizinkan untuk melamar anak orang? mudah, siapkan diri kita untuk menjemput jodoh yang dipilihkan oleh Allah untuk kita. jadi, sekarang adalah waktu untuk belajar, membekali diri, dan menyiapkan diri untuk orang terbaik yang dipilihkan Allah menjadi jodoh kita.

wallahu'alam...semoga bermanfaat, wassalam...

Senin, 20 Mei 2013

Hati tak diberi makan, jadilah ia kelaparan! baca : "GALAU"


Allah meminta kita untuk menjalankan agama islam secara kaffah bukan tanpa maksud dan tujuan. Sejatinya, apapun yang Allah perintahkan kepada kita, itu demi kebaikan kita sendiri. Sama sekali bukan untuk Allah. Bukan seperti raja kepada rakyat, bukan seperti majikan kepada pembantu, dan bukan juga seperti manajer kepada anak buahnya.

Syariat yang dijalankan dengan sempurna, atau aturan-aturan yang diamalkan sebagaimana mestinya dibalik bagaimana cara kita melakukannya akan membawa kita pada kemurnian tauhid kepada Allah SWT. Kali ini saya hanya akan membahas dari sudut pandang bagaimana syariat mengatur tata cara hubungan seorang laki-laki bersikap kepada lawan jenis yang bukan mahramnya, atau sebaliknya dan mengaitkannya kepada kemurniaan tauhid.

Kebanyakan kita, terlalu sering memaklumi diri sendiri demi melegalitaskan apa yang kita anggap baik. Perhatikan kata “anggap”. Anggapan itu akan menjadi benar ketika sesuai dengan aturan atau syariat yang berlaku. Ada beberapa contoh kelakuan pemakluman yang seharusnya tidak dilakukan ketika berkomunikasi dengan lawan jenis:
  1. bertatapan mata dengan lawan jenis, memang ini merupakan hal kecii. Tapi, apakah karena merupakan hal yang kecil hal ini dimaklumkan. Padahal, semua hal besar dimulai dari yang kecil, iyakan? Hal ini dimaklumi karena sudah menjadi suatu hal yang lumrah di sekitar kita untuk bersitatap dengan lawan jenis yang bukan mahram.
  2. bercanda berlebihan dengan lawan jenis, dengan beralasan “kan cuma bercanda aja, gak ngapa-ngapain, kita juga cuma temen, bersentuhan juga enggak...” dan lain sebaginya. Yang jelas poin nomor 2 ini bisa jadi hasil dari kebiasaan nomor satu. Karena sudah biasa saling tatap mata, sudah tidak canggung untuk saling berpandangan, berbicara berdua dengan enjoy-nya, kemudian mulailah bercanda-canda. Dari situ, mulailah memberikan bekas di hati. Biasanya kasus seperti ini sering terjadi ketika kerja tim, baik itu tugas kuliah, organisasi, maupun dakwah.
  3. Bermula dari adanya bekas di-hati, pikiran kita tentunya akan mengingat hal itu. Setiap kali bertemu dengannya, akan ingat dengan kejadian waktu itu. Kenapa? Karena ada bekas di hati kita. Semakin sering bekas itu muncul, seiring dengan meningkatnya intensitas komunikasi kita dengan si Dia karena tuntutan tugas, tentunya bekas-bekas itu akan semakin jelas, kuat, dan mulai mencari tempat di hati kita. Coba teliti, awalnya sama sekali tidak ada niat untuk suka-menyukai. Hanya “kerja kelompok” titik.
  4. Seiring dengan bertempatnya dia di hati kita, dan seringnya terjadi bersitatap muka dan pandangan mata, di kuatkan lagi dengan canda tawa yang tak terasa, semua itu akan terekam dengan baik oleh hati kita. Maka, mulailah hati kita dikuasai oleh rasa itu. Sedikit demi sedikit semua rekaman itu menggeser cahaya Allah yang semula bersemayam di hati kita.

Apa sih gejalanya? Mudah sekali, mulai ada kecenderungan ingin selalu melihatnya, mulai sering mengingat-ingatnya, dan selalu ingin berada di dekatnya. Ketika semua itu tidak terpenuhi maka yang terjadi adalah “GALAU”. Ya, hati kita butuh makanan, makanannya adalah ketentraman, kedamaian, dan kepuasan atas terpenuhinya hal-hal yang kita inginkan. Andai hal-hal yang kita inginkan tadi bersama si Dia tidak terpenuhi, maka hati akan kelaparan dan kehausan. Dan sayangnya, hanya cahaya rahmat dari Allah saja yang mampu memuaskan hati manusia. Ibarat orang indonesia, makanan pokoknya ada nasi. Kalau belum makan nasi maka belum makan, karena belum merasa kenyang. Nah, Rahmat Allah itu ibarat nasi untuk perut kita, makanan pokok.

Kalau sudah begini, tandanya hati sudah terpaut dengan makhluk (si Dia) selain kepada Allah. Semua itu di mulai dari sekedar pandangan mata. Padahal, disitulah letak kesempurnaan syariat. Jadi, kesempurnaan menjalankan syariat bisa dilihat dari sesempurna apa seseorang menjalankan hal-hal yang kecil dalam syari'at.

Sekarang kita lanjut, dimana letak hubungan kesempurnaan syariat dengan kemurniaan tauhid kepada Allah SWT? Kata “Ilah” mempunya empat makna:
  1. yang memberikan ketentraman
  2. yang memberikan perlindungan
  3. yang membuat rindu kepadanya
  4. yang membuat cinta kepadanya

coba tengok gejala yang terjadi ketika hati seseorang terpaut kepada lawan jenis,
  1. Semakin sering seseorang mengingat lawan jenisnya, itu adalah indikasi ia mencintai lawan jenisnya itu. Sesuai dengan poin ke-4. Ada cinta yang seharusnya kepada Allah tapi malah cinta itu ditujukan kepada makhluk. Akhirnya hanya si Dia yang ada di ingatan kita.
  2. Karena hanya si Dia yang ada diingatan kita, dari situ akan muncul kerinduan untuk bertemu, rasanya ingin selalu ada di dekatnya. Hal ini sesuai dengan poin ke-3. Ketika tidak berada dengannya, kita merinduinya.
  3. Kenapa kita rindu ingin selalu bersamanya? atau walau hanya sekedar melihatnya? jawabannya adalah karena kita merasa nyaman saat berada dengannya. Bukankah sebuah sinonim antara nyaman dengan tenteram? Kondisi ini sesuai dengan poin ke-1, kita merasa nyaman ketika berada dekat dengan yang kita cintai dan rindui.
  4. Rasa tenteram atau nyaman itu akan lahir ketika kita tidak ada sama sekali rasa khawatir dalam hati kita. Semuanya akan baik-baik saja. Bagi perempuan, rasa ini akan muncul ketika merasa ada yang melindungi dirinya. Di sini, kena dengan poin ke-2.

Jadi, jelaskan kalau kesempurnaan syariat berhubungan dengan kemurniaan ketauhidan. Yang saya tekankan di sini adalah, ketika rasa cinta kepada lawan jenis itu sudah memberikan gejala-gejala yang saya sebutkan tadi, maka segeralah beristighfar, karena semua itu mempengaruhi keimanan kita kepada Allah SWT. Bagaimana tidak? Kalau setiap hari yang lebih banyak di ingat adalah si Dia, bukan tuhannya? Kalau yang dirindui hanya si Dia bukan Tuhannya?

Lalu dimana letak kebaikannya untuk kita dengan mengamalkan syariat yang sempurna? Saya tidak akan mengatakan kita akan dimasukkan ke syurga atau terbebas dari api neraka. Karena kalau saya sebutkan itu, rasanya terlalu pamrih. Ya meskipun semua akan tertuju kesitu, saya tidak mau munafik. Tapi, yang lebih dekat dan yang paling terasa adalah, ketika hati sudah terpaut dengan makhluk. Lalu muncul gejala-gejala rindu kepadanya, cinta kepadanya, ingin bertemu, berbincang, berada dekat dengannya, dan diperhatikan oleh si Dia. tapi semua itu tidak terpenuhi, yang terjadi adalah “GALAU” alias tidak tenang, tidak tenteram, khawatir, was-was, selalu ada yang kurang, dan selalu gelisah, sama sekali jauh dari rasa nyaman.

Bukankah hidup seperti itu sangat menderita? Betapa besar kerusakan yang akan terjadi. Mulai dari malas belajar, malas ibadah, bahkan makan pun tidak selera. Ayolah kawan, kita evaluasi kepada siapa hati kita terpaut saat ini. Sekali lagi, rasa bahagia, nyaman, tenteram, dan damai bersumber dari hati kita sendiri. Dan pemenuhan akan kebutuhan hati kita agar bisa merasakan itu semua hanya tertutupi oleh cahaya rahmat dari Allah SWT, bukan dari apapun yang kita cinta selain Allah di dunia ini. Jadi, kalau hidup kita masih merasa resah, tanda hati kita belum terpaut kepada Allah SWT. Artinya, tauhid kita belum sepenuhnya murni. Semoga bermanfaat, wallahu'alam...to be continued()

Rabu, 08 Mei 2013

Source code : mengambil gambar secara realtime menggunakan MATLAB

dicoba pada : Dell inspiron 1420

vd=videoinput('winvideo',1,'RGB24_640x480'); %inisialisasi variabel vd sbg kamera

set(vd,'SelectedSourceName','input1');%mengatur vd sebagai sumber data
vd.ReturnedColorSpace='rgb';%mengambalikan gambar dengan format warna rgb
vd.FramesPerTrigger=20; %jumlah frame yang akan diambil
%vd.FrameGrabeInterval=10;%mengambil gambar setiap 10 detik
vd.TimeOut=60; %mengatur waktu time out untuk capturing
preview(vd); %menampilkan hasil tangkapan kamera secara live

start(vd); %inisialisasi untuk memulai capturing
gambar=getdata(vd);%mengambil gambar dan menyimpannya pada varibel gambar
imaqmontage(gambar); %menampilkan semua frame yang sudah diambil

save g.mat gambar %menyimpan matrix dari frame yg diambil

delete(vd); % menutup kamera