Tulisan ini aku buat
setelah membaca buku yang berisi catatan harian seorang ayah untuk anak-nya.
karena itu aku tergerak untuk mengikutinya, mungkin bukan untuk anakku, tapi
untuk diriku sendiri dan semua orang yang membaca tulisan ini.
Sekitar tiga bulan yang
lalu, dengan diantar oleh kawanku yang baik hati, nanti aku akan membuat satu
tulisan untuknya. Kami pergi membuat SIM (surat ijin mengemudi) sepeda motor di
daerah Tangerang, Banten. Jaraknya cukup jauh dari rumahku, sehingga membuat
bokong kami terasa panas lantaran terlalu lama duduk di atas sepeda motor.
Sesampainya di parkiran
POLRES, kami bertemu dengan seorang Pak Polisi yang perutnya buncit. Lalu ia
bertanya,
“mau bikin SIM, ya?” tanyanya,
“Iya, Pak” jawabku.
“Hmmm…bikin baru atau
perpanjang?” tanyanya lagi.
“bikin baru, pak.”
Jawabku.
Lalu tanpa berpikir
lagi dia bertanya seperti ini, “mau dibantu gak?” aku mengerti maksudnya, kata
bantu = beli. Artinya tidak usah repot-repot mengurus dan ikut ujian, tapi
cukup duduk manis, lalu di foto, maka SIM akan ada di tangan.
“berapa, Pak.” Tanyaku.
“450 ribu.” Jawabnya.
Sedangkan biaya yang sebenarnya adalah 100 ribu.
“ya, Pak. Kemahalan.
Mahasiswa ini.” jawabku.
Ketika itu, sejujurnya
aku sangat bimbang. Mau ikut dengan Pak Polisi ini, atau mengurus sendiri.
Temanku yang sudah lebih dulu memiliki SIM dengan cara dibantu, tidak berkata
apa-apa. Ia menyerahkan pilihan kepadaku. Aku bisa saja menerima tawarannya,
karena di dompetku ada uang yang cukup, dan memang sudah disiapkan untuk hal seperti
ini. tapi entah mengapa, aku teringat dengan kebiasaanku dahulu waktu kecil. Waktu
masih kecil, aku senang berbohong kepada kedua orang tuaku, mencuri uang
mereka, membolos sekolah, dan kenakalan lainnya. Karena perbuatanku itu, orang
tuaku menghukumku habis-habisan. Setiap kali habis dihukum aku akan meringkuk
di pojokan kamar sembari menangis sesenggukan. Aku ingat betul kalimat yang
keluar dari mulut Ayahku setiap kali menghukumku, seperti ini katanya “masih
kecil udah sering bohong, udah besar mau jadi apa, KAMU? Mau jadi Maling? Mau
jadi koruptor?” bentaknya.
Kalimat itu
terngiang-ngiang di kepalaku saat ini. usiaku saat itu 7 tahun. Sekarang usiaku
sudah 21 tahun. Aku berpikir seperti ini, kenakalanku saat 7 tahun adalah
sering berbohong, kalau di usia 21 tahun ini aku bertindak nakal, ya inilah
wujud kenakalanku. kelak, 5 atau 10 tahun lagi, bisa jadi apa yang dikatakan
oleh Ayahku bahwa aku akan jadi koruptor benar-benar menjadi kenyataan, kalau
saat ini aku tidak mengubahnya.
Pilihan ada ditanganku,
meneruskan perilaku berbohong dan aku akan jadi koruptor, atau memutusnya
sekarang dan aku mengubah jalan hidupku. Saat itu juga aku putuskan untuk
“berubah haluan”, aku menolak tawaran si Pak Polisi. Ia pergi dengan kecewa.
Singkat cerita, aku
mengurus sendiri segala keperluan untuk ujian mengemudi. Setelah mengisi
formulir, aku bercakap-cakap dengan orang lain yang juga peserta ujian SIM. Dan
jiwaku semakin berontak ketika ku dapati mereka semua memilih “dibantu” alias
“membeli” SIM. Dan parahnya lagi, semua yang “membeli” SIM prosesnya
dipermudah, ujian hanya formalitas belaka, karena lembar jawaban yang diproses
adalah lembar jawaban yang sudah ada isinya. Lembar jawaban yang diisi oleh
peserta entah disembunyikan dimana. akibatnya, mereka yang mengikuti proses
dengan “jujur” terabaikan akibat diselak oleh mereka yang membeli SIM, sehingga
pemeriksaannya menjadi sangat lama.
Singkat cerita, aku
tidak lulus ujian tulis dan pulang ke rumah dengan tangan kosong. Tapi, aku
masih bisa berbesar hati, karena aku tidak “membeli” SIM seperti kebanyakan
orang. Dan aku berharap, Ayahku akan menepuk-nepuk pundakku karena idelisme
yang aku pegang ini.
Sesampainya di rumah,
Ayahku menanyakan SIM yang aku peroleh, lalu aku ceritakan kepadanya bahwa aku
gagal. Lalu dia berkata seperti
ini,”memang kamu gak dibantuin sama polisinya?” Tanya Ayahku,
Lalu aku jawab, “gak,
Yah. Aku mengurusnya sendiri.”
Sobat, apa menurut
kalian respon yang diberikan Ayahku?
Diluar dugaanku, Ayahku
justeru kecewa dengan pilihanku ini. Ayahku lebih memilih agar aku “membeli”
SIM saja. Ayahku lebih mendukung kalau aku berbohong dan ikut mendukung praktek
KKN itu. Ayahku justeru kecewa melihat anaknya bertindak jujur dan menolak
tindakan yang jelas-jelas salah. Tindakan KKN yang jelas-jelas sudah
memiskinkan bangsa yang kaya raya ini.
Sobat, tidakkah kalian
melihat ada yang terbalik pada ceritaku ini? siapa yang salah dan siapa yang
benar menjadi tidak jelas. Aku, bertindak atas hati nurani akan kebenaran
pilihanku, justeru dianggap salah. Sedangkan mereka yang ber-KKN, dengan
menutup mata, seolah dapat dibenarkan.
Sobat, pesanku pada
kalian, jika kalian memiliki idealisme yang kuat, maka jagalah ia baik-baik.
Jangan sampai ternoda oleh tindak pemakluman dan pembenaran. Ukuran benar atau
salah, tidak dinilai oleh banyak atau sedikitnya orang yang menyatakan hal itu
benar atau salah. Tapi, kebenaran itu diukur oleh hati nurani yang bersih dan
suci.
Sobat, jadilah
mutiara. Mutiara tetaplah mutiara meskipun ia berada di dalam kubangan lumpur
sekalipun. Tapi janganlah kalian jadi kotoran, karena kotoran akan tetap
menjadi kotoran meski dimasukkan ke dalam madu sekalipun.
Sobat, layaknya
mutiara, kau adalah manusia yang bernilai tinggi, memiliki harga diri, dan
memiliki kehormatan yang tinggi. Jangan engkau rusak harga diri dan
kehormatanmu dengan praktek tangan kotor sekalipun dibenarkan oleh banyak
orang.
Kamar L.107. Selasa, 4
Februari 2014.
Sands Casino in Henderson | New Hampshire
BalasHapusThe Sands casino is Henderson's favorite หาเงินออนไลน์ hotel, just a mile away from the Reno-Tahoe International Airport. choegocasino Nestled within the 샌즈카지노 Las Vegas