Sabtu, 08 Februari 2014

Satu artikel sebelum tidur: ”Tentang Ideliasme”




Tulisan ini aku buat setelah membaca buku yang berisi catatan harian seorang ayah untuk anak-nya. karena itu aku tergerak untuk mengikutinya, mungkin bukan untuk anakku, tapi untuk diriku sendiri dan semua orang yang membaca tulisan ini.

Sekitar tiga bulan yang lalu, dengan diantar oleh kawanku yang baik hati, nanti aku akan membuat satu tulisan untuknya. Kami pergi membuat SIM (surat ijin mengemudi) sepeda motor di daerah Tangerang, Banten. Jaraknya cukup jauh dari rumahku, sehingga membuat bokong kami terasa panas lantaran terlalu lama duduk di atas sepeda motor.

Sesampainya di parkiran POLRES, kami bertemu dengan seorang Pak Polisi yang perutnya buncit. Lalu ia bertanya,

“mau bikin SIM, ya?” tanyanya,

“Iya, Pak” jawabku.

“Hmmm…bikin baru atau perpanjang?” tanyanya lagi.

“bikin baru, pak.” Jawabku.

Lalu tanpa berpikir lagi dia bertanya seperti ini, “mau dibantu gak?” aku mengerti maksudnya, kata bantu = beli. Artinya tidak usah repot-repot mengurus dan ikut ujian, tapi cukup duduk manis, lalu di foto, maka SIM akan ada di tangan.

“berapa, Pak.” Tanyaku.

“450 ribu.” Jawabnya. Sedangkan biaya yang sebenarnya adalah 100 ribu.

“ya, Pak. Kemahalan. Mahasiswa ini.” jawabku.

Ketika itu, sejujurnya aku sangat bimbang. Mau ikut dengan Pak Polisi ini, atau mengurus sendiri. Temanku yang sudah lebih dulu memiliki SIM dengan cara dibantu, tidak berkata apa-apa. Ia menyerahkan pilihan kepadaku. Aku bisa saja menerima tawarannya, karena di dompetku ada uang yang cukup, dan memang sudah disiapkan untuk hal seperti ini. tapi entah mengapa, aku teringat dengan kebiasaanku dahulu waktu kecil. Waktu masih kecil, aku senang berbohong kepada kedua orang tuaku, mencuri uang mereka, membolos sekolah, dan kenakalan lainnya. Karena perbuatanku itu, orang tuaku menghukumku habis-habisan. Setiap kali habis dihukum aku akan meringkuk di pojokan kamar sembari menangis sesenggukan. Aku ingat betul kalimat yang keluar dari mulut Ayahku setiap kali menghukumku, seperti ini katanya “masih kecil udah sering bohong, udah besar mau jadi apa, KAMU? Mau jadi Maling? Mau jadi koruptor?” bentaknya.

Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku saat ini. usiaku saat itu 7 tahun. Sekarang usiaku sudah 21 tahun. Aku berpikir seperti ini, kenakalanku saat 7 tahun adalah sering berbohong, kalau di usia 21 tahun ini aku bertindak nakal, ya inilah wujud kenakalanku. kelak, 5 atau 10 tahun lagi, bisa jadi apa yang dikatakan oleh Ayahku bahwa aku akan jadi koruptor benar-benar menjadi kenyataan, kalau saat ini aku tidak mengubahnya.

Pilihan ada ditanganku, meneruskan perilaku berbohong dan aku akan jadi koruptor, atau memutusnya sekarang dan aku mengubah jalan hidupku. Saat itu juga aku putuskan untuk “berubah haluan”, aku menolak tawaran si Pak Polisi. Ia pergi dengan kecewa.

Singkat cerita, aku mengurus sendiri segala keperluan untuk ujian mengemudi. Setelah mengisi formulir, aku bercakap-cakap dengan orang lain yang juga peserta ujian SIM. Dan jiwaku semakin berontak ketika ku dapati mereka semua memilih “dibantu” alias “membeli” SIM. Dan parahnya lagi, semua yang “membeli” SIM prosesnya dipermudah, ujian hanya formalitas belaka, karena lembar jawaban yang diproses adalah lembar jawaban yang sudah ada isinya. Lembar jawaban yang diisi oleh peserta entah disembunyikan dimana. akibatnya, mereka yang mengikuti proses dengan “jujur” terabaikan akibat diselak oleh mereka yang membeli SIM, sehingga pemeriksaannya menjadi sangat lama.

Singkat cerita, aku tidak lulus ujian tulis dan pulang ke rumah dengan tangan kosong. Tapi, aku masih bisa berbesar hati, karena aku tidak “membeli” SIM seperti kebanyakan orang. Dan aku berharap, Ayahku akan menepuk-nepuk pundakku karena idelisme yang aku pegang ini.
Sesampainya di rumah, Ayahku menanyakan SIM yang aku peroleh, lalu aku ceritakan kepadanya bahwa aku gagal.  Lalu dia berkata seperti ini,”memang kamu gak dibantuin sama polisinya?” Tanya Ayahku,

Lalu aku jawab, “gak, Yah. Aku mengurusnya sendiri.”

Sobat, apa menurut kalian respon yang diberikan Ayahku?
Diluar dugaanku, Ayahku justeru kecewa dengan pilihanku ini. Ayahku lebih memilih agar aku “membeli” SIM saja. Ayahku lebih mendukung kalau aku berbohong dan ikut mendukung praktek KKN itu. Ayahku justeru kecewa melihat anaknya bertindak jujur dan menolak tindakan yang jelas-jelas salah. Tindakan KKN yang jelas-jelas sudah memiskinkan bangsa yang kaya raya ini.

Sobat, tidakkah kalian melihat ada yang terbalik pada ceritaku ini? siapa yang salah dan siapa yang benar menjadi tidak jelas. Aku, bertindak atas hati nurani akan kebenaran pilihanku, justeru dianggap salah. Sedangkan mereka yang ber-KKN, dengan menutup mata, seolah dapat dibenarkan.

Sobat, pesanku pada kalian, jika kalian memiliki idealisme yang kuat, maka jagalah ia baik-baik. Jangan sampai ternoda oleh tindak pemakluman dan pembenaran. Ukuran benar atau salah, tidak dinilai oleh banyak atau sedikitnya orang yang menyatakan hal itu benar atau salah. Tapi, kebenaran itu diukur oleh hati nurani yang bersih dan suci.

Sobat, jadilah mutiara. Mutiara tetaplah mutiara meskipun ia berada di dalam kubangan lumpur sekalipun. Tapi janganlah kalian jadi kotoran, karena kotoran akan tetap menjadi kotoran meski dimasukkan ke dalam madu sekalipun.

Sobat, layaknya mutiara, kau adalah manusia yang bernilai tinggi, memiliki harga diri, dan memiliki kehormatan yang tinggi. Jangan engkau rusak harga diri dan kehormatanmu dengan praktek tangan kotor sekalipun dibenarkan oleh banyak orang.

Kamar L.107. Selasa, 4 Februari 2014.

1 komentar:

  1. Sands Casino in Henderson | New Hampshire
    The Sands casino is Henderson's favorite หาเงินออนไลน์ hotel, just a mile away from the Reno-Tahoe International Airport. choegocasino Nestled within the 샌즈카지노 Las Vegas

    BalasHapus